jump to navigation

Suatu Malam di Sebuah Kontrakan April 10, 2008

Posted by Arditya Wahyu N in One Day.
trackback

Suatu malam, sekitar pukul 20.30 WIB di daerah Kelurahan Kukusan, tepatnya di sebuah kontrakan, terdapat sebuah diskusi hebat nan panas, tak kalah dengan diskusi-diskusi yang ada di ruang-ruang BEM/SM berbagai universitas di dunia, tak kalah dengan yang ada di LSM-LSM, maupun diskusi di tingkat pejabat. Pertemuan ini mempertemukan empat orang mahasiswa handal dari berbagai fakultas. Sebut saja ada si A, sebagai penggembira, pencair suasana dalam focus group ini yang merupakan seorang mahasiswa Fasilkom. Ada pula si B, mahasiswa Psikologi yang kali ini berkesempatan menjadi moderator. Si F, anak Kapal, pelengkap materi diskusi yang ada, dan terakhir, narasumber handal, aktual, tajam, dan terpercaya, mantan Ketua Bidang Kastrat di BEM Fasilkom UI, si H yang juga merupakan anggota baru dalam pertemuan yang memiliki pengaruh besar di masyarakat nanti ini.

Ini bukan hanya sekedar omong kosong belaka, ini bukan obrolan bujang-bujang yang doyannya ngegosip harim-harim yang menjadi harapan mereka yang tak pernah menjadi nyata, ini juga bukan pertemuan les mengikuti suara nada sambung Cinta Laura (hueks!!). Pertemuan ini sebenarnya terjadi karena adanya tontonan di sebuah stasiun TV swasta, yang menayangkan debat terbuka antar calon gubernur Jawa Barat. Tayangan ini menggugah hati 4 orang mahasiswa untuk melakukan diskusi-diskusi yang lebih hebat. Pak Gumilar, rektor UI sekarang dan lingkungan UI menjadi menu pembuka. Berbagai pendapat diutarakan mengenai masa depan UI di tangan pemimpin yang katanya sering jalan malam sendiri dari asrama UI menuju kutek melalui hutan terlarang untuk melakukan inspeksi kegiatan-kegiatan mesum yang sering terjadi. Si H berpendapat, hutan UI ini masih tidak produktif, tetapi si A membantah, hutan UI ini justru memberikan penghasilan bagi klinik-klinik yang menghalalkan praktek aborsi.

~bentar yang nulis sarapan dulu…

Sebelum lanjut, ada side story dalam diskusi ini, yaitu tentang si A. Awalnya, dia tidak tertarik dengan pembicaraan penting yang terjadi dalam kontrakan itu. Karena ketika itu, si A sedang asyik menjadi manager Arsenal di Football Manager 2008. Musim pertamanya, si A sukses memberikan Arsenal posisi 3 di klasemen akhir, dan tanpa gelar. Malam itu, si A menyelesaikan musim keduanya. Liga Champion terhenti di babak 1st knockout, Final FA pun gagal ditembus dan kesialan berlanjut dengan menempatkan Arsenal di peringkat 6 klasemen akhir, kembali tanpa gelar, bahkan gagal masuk UEFA CUP. Dan Si A pun menyudahi permainannya, bergabung sebagai tamu penting dalam pertemuan.

~back to topic

Si B, sang moderator melanjutkan pembicaraan ke tema selanjutnya.

Intinya pada malam itu acara ini membahas berbagai peluang yang dimiliki mahasiswa UI dalam memperoleh overseas Schoolarship. Acara dibuka dengan sangat manis oleh si H yang bercerita tentang dirinya yang meng-apply beasiswa ke Korea Selatan tetapi tidak jadi berangkat karena?…bukan, bukan karena tidak lulus seleksi wajah tetapi karena tidak lulus tes kepribadian (sori H, bercanda, si B yang nulis ini). Si H bercerita bahwa ia hampir saja berangkat jika saja ia mempunyai nilai Toefl di atas lima ratus karena pada saat ia membaca persyaratan ia tidak mendapati syarat tersebut. Ia lantas membatalkan niatnya. ”Tetapi seiring berlalu, sepiring nasi goreng berlalu, waktu membuka rahasia di antara kita”. Seseorang dari rektorat menelpon dia dan meminta kesediaannya untuk dihijrahkan ke Korea dengan nilai transfer nol koma sejuta nooo…lll satu rupiah. Tapi apa daya si H tidak mempersiapkan nilai toefl nya (diragukan antara males atau gak bisa).

Korea Selatan hanya tinggal harapan. Negeri lain pun menjadi pembicaraan. Si H kembali bercerita, ada beasiswa lagi ke Turki, tetapi bukan dia yang meng-apply dengan alasan merasa terlalu jauh, melainkan teman seangkatan yang meng-apply. Hasilnya, masih belum diketahui hingga saat ini. “Ngapain juga ke Turki, mau nyari Aisyah…? Kuliahnya naek kereta terus…” celetuk si B. Melihat suasana semakin rame, si B pun kembali berimprovisasi “ke India aja sekalian, ngeliat Bahadur maen suling di sono” semakin gak nyambung “harusnya tiket nonton Ayat-Ayat Cinta bisa dituker ama boneka Bahadur sehabis nonton tuh film”. “Mendingan nonton yang bajakan aja deh filmnya daripada ngeliat tuh boneka” si A gak mau kalah.

To be continued…

~terima kasih kepada si B ikut yang memberikan kontribusi dalam tulisan ini, juga kepada media-media partner, berlizone.com, chamatz.wordpress.com,ariwibi.co.nr, dkk yang memberikan lahannya untuk menampilkan link blog ini. Dan tak lupa, kepada empat tersangka penghuni kontrakan. Domo, arigatougozaimasu.

Tetap sehat tetap semangat, sampai jumpa kembali di channel yang sama.

Komentar»

1. Ringo - April 10, 2008

yah….ceritanya msh ngegantung nich….jd penasaran…
wakakakakk……

:D

2. chamatz - April 12, 2008

hahaha….
mantabh dah,,,

nyari aisyah sampe turki..
mendingan sama nurul aja yg sebangsa setanah air…
hehe..peace..

3. Malinda - April 27, 2008

apaan sih… jadi bagian yang penting yang mana? Aisyah ato Bahadur… ups..

4. MauL - April 28, 2008

linda ikutan juga nih??